BENGKULU – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menimbulkan kerusakan lingkungan, tetapi juga membawa ancaman serius bagi kesehatan masyarakat akibat paparan kabut asap. Kondisi tersebut perlu diwaspadai, terutama oleh bayi, anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, dan masyarakat yang memiliki penyakit kronis.
Ketua DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Dicky Budiman, mengingatkan bahwa asap karhutla mengandung partikel halus PM2,5, karbon monoksida, dan gas iritan yang dapat memengaruhi berbagai organ tubuh. Risiko kesehatan semakin perlu diperhatikan apabila paparan berlangsung selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.
Menurut Dicky, paparan asap dalam jangka panjang dapat menyebabkan gangguan saluran pernapasan, mulai dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), batuk berkepanjangan, bronkitis, kekambuhan asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), hingga penurunan fungsi paru.
“Dampaknya tidak hanya pada saluran pernapasan. Partikel halus dapat masuk ke aliran darah dan memicu peradangan sehingga meningkatkan risiko gangguan jantung dan pembuluh darah, seperti serangan jantung, stroke, serta gangguan irama jantung,” ujar Dicky dalam keterangan pers DPP LDII di Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Ia menambahkan, paparan asap juga dapat menyebabkan iritasi pada mata, kulit, dan tenggorokan. Pada anak-anak, paparan berulang setiap musim karhutla berpotensi memengaruhi pertumbuhan paru-paru dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan dalam jangka panjang.
Dicky meminta masyarakat segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gejala berbahaya, seperti sesak napas, napas cepat atau berbunyi, nyeri dada, jantung berdebar tidak wajar, pusing berat, pingsan, batuk yang semakin parah, demam tinggi, atau bibir dan ujung jari membiru.
“Pada penderita asma atau PPOK, jika obat yang biasanya digunakan sudah tidak membantu, itu juga merupakan tanda bahaya yang membutuhkan pertolongan medis segera,” katanya.
Lindungi Keluarga dari Paparan Kabut Asap
Untuk mengurangi risiko paparan, Dicky menyarankan masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama olahraga berat, ketika kualitas udara memburuk. Pintu, jendela, dan celah ventilasi sebaiknya ditutup saat asap sedang tebal. Jika harus beraktivitas di luar rumah, masyarakat dianjurkan menggunakan masker dengan kemampuan filtrasi partikel tinggi, seperti N95.
Masyarakat juga diimbau tidak membakar sampah, merokok, atau melakukan aktivitas memasak yang menghasilkan asap di dalam ruangan. Asupan cairan dan gizi harus tetap terjaga, terutama bagi kelompok rentan.
“Jangan membawa bayi dan anak-anak keluar rumah ketika asap tebal. Jika memungkinkan, siapkan satu ruangan dengan udara yang lebih bersih, bersihkan permukaan dengan kain basah, dan gunakan penjernih udara jika tersedia,” ujar Dicky yang juga berprofesi sebagai dokter, epidemiolog, dan peneliti Indonesia dari Universitas Griffith, Australia.
Ia menegaskan bahwa keluarga perlu memanfaatkan ruang evakuasi atau tempat dengan udara lebih bersih yang disediakan pemerintah apabila kondisi rumah tidak lagi memungkinkan untuk ditempati dengan aman.
Meri Sasdi Ajak Masyarakat Tingkatkan Kepedulian
Ketua DPW LDII Provinsi Bengkulu, Dr. H. Meri Sasdi, M.Pd., turut menekankan pentingnya meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap dampak kabut asap, terutama dalam melindungi anggota keluarga yang rentan.
Menurutnya, upaya menjaga kesehatan masyarakat harus berjalan seiring dengan pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Masyarakat perlu memahami bahwa tindakan menjaga lingkungan dan menghindari pembakaran terbuka turut berperan dalam mengurangi risiko bencana asap.
“Kami mengajak masyarakat Bengkulu untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan kesehatan keluarga, terutama saat terjadi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Jangan melakukan pembakaran terbuka yang dapat memperburuk kualitas udara. Mari kita lindungi anak-anak, lansia, dan anggota keluarga yang rentan dengan mengurangi aktivitas di luar ruangan saat asap tebal serta segera mencari pertolongan medis jika mengalami gangguan kesehatan. Menjaga lingkungan adalah tanggung jawab kita bersama demi keselamatan dan kesehatan masyarakat,” ujar Meri Sasdi.
Ia juga mengingatkan bahwa perlindungan terhadap kelompok rentan perlu menjadi perhatian bersama, mulai dari lingkungan keluarga hingga masyarakat luas. Edukasi mengenai bahaya asap, kebiasaan hidup bersih, dan langkah perlindungan diri perlu terus disampaikan agar masyarakat mampu mengambil tindakan yang tepat ketika menghadapi kondisi darurat.
Melalui edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat, LDII mengajak semua pihak untuk memperkuat upaya pencegahan karhutla sekaligus melindungi kesehatan keluarga dari dampak kabut asap.