benner website dpw ldii
whatsapp image 2026 09 28 at 05.01.42

LDII Hadiri IGIC 2026, Dukung Diplomasi Keagamaan untuk Perdamaian Dunia

JAKARTA (28/9) – Ketua Umum DPP LDII Dody Taufiq Wijaya menghadiri pembukaan International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 di Hotel Bidakara, Jakarta, Sabtu (26/9). Forum internasional yang mengusung tema “Masjid Harmony, Religious Diplomacy and Global Peace” tersebut mempertemukan imam besar, mufti, ulama, akademisi, dan tokoh agama dari berbagai negara untuk membahas peran agama dalam membangun harmoni dan perdamaian dunia.

Dalam forum tersebut, Menteri Agama RI sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, menekankan pentingnya peran imam sebagai duta perdamaian. Menurutnya, imam memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan jamaah secara rutin, sehingga dapat menjadi penghubung antara nilai-nilai agama dan persoalan kemanusiaan.

Nasaruddin juga memperkenalkan gagasan religious diplomacy atau diplomasi keagamaan sebagai salah satu pendekatan untuk merespons konflik dan persoalan kemanusiaan. Ia menilai bahasa moral dan agama dapat menjadi ruang untuk membangun kesadaran kemanusiaan di tengah berbagai konflik.

“Kemanusiaan itu hanya satu. Rasa kemanusiaan ini tidak mengenal agama apa pun, etnik mana pun juga, semuanya punya rasa kemanusiaan. Mari kita sentuh persoalan konflik regional hingga internasional ini dengan menggunakan bahasa moral,” jelas Nasaruddin.

whatsapp image 2026 09 28 at 05.01.44

Selain isu perdamaian, Menag menyoroti pentingnya ekoteologi atau pemahaman keagamaan yang mendorong kepedulian terhadap lingkungan. Ia juga mengingatkan pentingnya landasan moral dalam perkembangan teknologi, termasuk Artificial Superintelligence.

“Al Quran diawali dengan iqra’ bismi rabbika. Iqra’ tanpa bismi rabbika, itu pasti akan melahirkan monster,” ujarnya.

Menanggapi gagasan tersebut, Ketua Umum DPP LDII Dody Taufiq Wijaya mengatakan LDII mendukung penguatan peran imam dan masjid dalam memberikan kemaslahatan bagi masyarakat. Menurutnya, masjid dapat menjadi ruang untuk menemukan solusi atas berbagai persoalan yang muncul di lingkungan masyarakat.

“Kami harapkan juga begitu, imam-imam masjid yang ada di lingkungan LDII juga bisa menebarkan kemaslahatan, bisa menemukan atau mencari solusi-solusi terhadap permasalahan yang ada di lingkungannya, maupun masalah-masalah yang mungkin menyebabkan konflik dan bisa diselesaikan melalui masjid,” katanya.

Dody menjelaskan, fungsi masjid tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan ibadah. Masjid juga dapat menjadi tempat pendidikan, pembinaan generasi muda, serta ruang musyawarah untuk membahas berbagai persoalan masyarakat.

“Masjid tidak hanya sebagai tempat salat, tetapi juga tempat belajar bagi anak-anak, remaja, hingga dewasa melalui kegiatan pengajian. Selain untuk membina generasi penerus, masjid juga menjadi tempat bermusyawarah bagi pengurus majelis taklim untuk menyelesaikan berbagai permasalahan jemaah,” tuturnya.

Ia menambahkan, gagasan ekoteologi yang disampaikan dalam forum tersebut juga sejalan dengan berbagai kegiatan LDII di bidang lingkungan dan ketahanan pangan. Melalui kegiatan tersebut, warga LDII didorong untuk menjaga lingkungan sekaligus memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara berkelanjutan.

Sementara itu, Ketua Panitia Pengarah IGIC 2026 Irjen Pol. Muhammad Sabilul Alif menyampaikan bahwa forum tersebut diikuti 49 delegasi internasional dari 39 negara serta sekitar 350 imam dari berbagai daerah di Indonesia. Kehadiran para tokoh lintas negara tersebut menjadi bagian dari upaya membangun dialog mengenai peran agama dalam menghadapi berbagai persoalan global.

Menurut Sabilul, masjid memiliki posisi strategis dalam membangun harmoni di tengah masyarakat. Ia menggambarkan proses tersebut sebagai rangkaian yang dimulai dari masjid, kemudian membangun harmoni, dialog, kepercayaan, hingga perdamaian dunia.

IGIC 2026 berlangsung pada 25–28 September 2026 di sejumlah lokasi di Jakarta. Forum tersebut membahas antara lain harmoni masjid, diplomasi keagamaan, perdamaian global, peran sosial imam, serta isu lingkungan. Rangkaian konferensi juga menghasilkan Jakarta Understanding yang menempatkan imam dan masjid sebagai bagian dari upaya membangun perdamaian dan memperkuat diplomasi keagamaan.

Melalui kehadirannya dalam IGIC 2026, LDII turut mengikuti ruang dialog lintas agama dan negara mengenai penguatan peran masjid serta imam dalam kehidupan masyarakat. Bagi LDII, masjid diharapkan tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga tempat pendidikan, pembinaan umat, musyawarah, dan penyelesaian berbagai persoalan sosial secara damai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *