benner website dpw ldii
picture1

UB Mandiri, Usaha Bersama Warga LDII Bengkulu yang Bertahan Lebih dari Dua Dekade

BENGKULU – Usaha bersama milik warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Kelurahan Kebun Tebeng, Kecamatan Ratu Agung, Kota Bengkulu, terus bertahan di tengah perubahan zaman. Berdiri sejak 2000, UB Mandiri kini telah melewati perjalanan lebih dari dua dekade dengan berbagai dinamika, sekaligus terus berupaya memperkuat perannya dalam mendukung kesejahteraan anggota.

Perjalanan UB Mandiri tersebut menjadi perhatian pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LDII saat melakukan kunjungan langsung ke lokasi. Kunjungan itu menjadi kesempatan untuk melihat lebih dekat bagaimana usaha bersama tersebut tumbuh, menghadapi tantangan, serta mempertahankan keberadaannya hingga saat ini.

Ketua UB Mandiri, Sudadiyo, menuturkan usaha tersebut pada awalnya berjalan tanpa badan hukum. Setelah enam tahun berkembang, UB Mandiri kemudian resmi berbadan hukum pada 2006 melalui akta notaris Kuswadi Wahyudi.

Menurut Sudadiyo, sejak awal pendiriannya UB Mandiri memiliki tujuan utama yang sederhana, tetapi strategis, yakni mendorong kesejahteraan anggota. Prinsip tersebut sejalan dengan anggaran dasar organisasi dan menjadi pijakan dalam menjalankan serta mengembangkan usaha.

“Selain mewadahi kebutuhan pondok, kami juga mencari kesejahteraan bagi pemegang saham,” ujar Sudadiyo.

Dalam perkembangannya, UB Mandiri tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan internal. Usaha tersebut juga menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar pondok pesantren dan sekolah.

Salah satu lini usaha yang dijalankan adalah penyediaan kebutuhan pokok atau sembako bagi masyarakat sekitar. UB Mandiri juga memenuhi berbagai kebutuhan santri, antara lain seragam sekolah dan buku-buku pelajaran.

Seiring perubahan kebutuhan masyarakat, UB Mandiri turut mengembangkan layanan di bidang jasa. Di antaranya pembiayaan secara daring serta layanan perkreditan bagi anggota. Diversifikasi tersebut dilakukan sebagai upaya agar usaha bersama tetap relevan dan mampu menjawab kebutuhan anggotanya.

Namun, perjalanan UB Mandiri bukan tanpa tantangan. Kinerja usaha mengalami pasang surut dari tahun ke tahun. Pada 2024, UB Mandiri mencatat keuntungan bersih sebesar 76 persen dari modal Rp180 juta. Sementara pada 2025, kinerja tersebut mengalami penurunan sebesar 61 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut menjadi bahan evaluasi bagi pengurus. Sudadiyo mengatakan, pengurus tidak ingin menjadikan penurunan kinerja sebagai hambatan untuk berkembang. Evaluasi dilakukan secara menyeluruh, disertai upaya mencari dan mengembangkan lini usaha baru yang dinilai lebih produktif.

“Ke depan kami terus melakukan evaluasi dan mencari peluang usaha baru yang lebih produktif,” kata Sudadiyo.

Bagi UB Mandiri, keberlangsungan usaha bukan semata soal mempertahankan aktivitas ekonomi. Lebih dari itu, usaha bersama menjadi ruang untuk membangun kemandirian sekaligus memberikan manfaat bagi anggota dan lingkungan sekitar.

Sudadiyo menyampaikan rasa syukur atas kunjungan pengurus DPP LDII yang memberikan kesempatan kepada UB Mandiri untuk berbagi pengalaman mengenai perjalanan usaha yang telah dibangun selama lebih dari 20 tahun.

Ia berharap UB Mandiri dapat terus berkembang dengan dukungan seluruh anggota. Keamanan, kelancaran usaha, serta rezeki yang barokah menjadi harapan yang ingin terus dijaga dalam perjalanan usaha bersama tersebut.

Kunjungan pengurus DPP LDII ke UB Mandiri pun menjadi momentum untuk memperkuat semangat pemberdayaan ekonomi warga. Pengalaman UB Mandiri menunjukkan bahwa usaha yang dibangun secara bersama membutuhkan ketekunan, evaluasi, dan kemampuan beradaptasi agar tetap bertahan di tengah perubahan.

Dengan pengalaman lebih dari dua dekade, UB Mandiri diharapkan terus tumbuh sebagai usaha bersama yang mandiri, amanah, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi anggota maupun masyarakat di sekitarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *