BENGKULU — Pembinaan sepak bola usia dini di Provinsi Bengkulu terus diarahkan tidak hanya untuk mengembangkan kemampuan olahraga, tetapi juga membentuk generasi muda yang berkarakter. Melalui Forum Sepak Bola Generasi Indonesia (FORSGI) yang berada dalam pembinaan *Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII)*, pembinaan sepak bola dipadukan dengan penanaman nilai-nilai karakter luhur kepada generasi muda.
Arah pembinaan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam *Sosialisasi Program Kerja FORSGI Provinsi Bengkulu* yang digelar di Gedung DPW LDII Provinsi Bengkulu, Sabtu (19/9/2026). Kegiatan tersebut diikuti para dewan pelatih FORSGI dari berbagai kabupaten dan kota se-Provinsi Bengkulu.
Sosialisasi ini menjadi momentum untuk menyamakan pemahaman mengenai arah pembinaan sekaligus memperkuat koordinasi antarpelatih. Melalui pertemuan tersebut, para pelatih diharapkan memiliki pola pembinaan yang selaras dalam mendampingi anak-anak di masing-masing daerah.
Ketua FORSGI Provinsi Bengkulu, *Aiptu Gono Sutrisno*, mengatakan pembinaan sepak bola usia dini perlu berjalan seiring dengan pembentukan karakter. Menurutnya, olahraga dapat menjadi sarana strategis untuk menanamkan nilai-nilai positif kepada anak sejak usia dini.
“Pembinaan generasi bangsa melalui sepak bola usia dini dengan 29 karakter luhur. Penanaman nilai-nilai nasionalisme untuk menumbuhkan generasi bangsa yang menjaga keutuhan NKRI,” ujar Aiptu Gono Sutrisno.
Dalam pembinaan FORSGI, kemampuan teknis dan fisik pemain tetap menjadi bagian penting. Namun, proses tersebut dilengkapi dengan penanaman *29 karakter luhur*, seperti disiplin, tanggung jawab, kerja sama, kejujuran, kepedulian, dan sportivitas.
Nilai-nilai tersebut diharapkan tidak berhenti pada aktivitas latihan dan pertandingan. Anak-anak juga diarahkan untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
Dewan Penasihat FORSGI Provinsi Bengkulu, *H. Hanafi Sutrisno*, menegaskan bahwa keseimbangan antara kemampuan bermain dan pembentukan kepribadian menjadi bagian penting dalam pembinaan.
> “Pembinaan di FORSGI tidak hanya berfokus pada teknik bermain bola, tapi juga berfokus pada pembinaan karakter luhur,” kata H. Hanafi Sutrisno.
Ia menambahkan, pembinaan olahraga usia dini perlu dipandang sebagai proses jangka panjang. Karena itu, keberhasilan tidak hanya dilihat dari capaian dalam pertandingan, tetapi juga dari perkembangan sikap dan kepribadian para pemain.
Dalam konteks pembinaan LDII, kegiatan olahraga menjadi salah satu ruang untuk mendampingi generasi muda agar memiliki aktivitas positif sekaligus mengembangkan potensi dan karakter. FORSGI menjadi salah satu wadah yang mempertemukan pembinaan olahraga sepak bola dengan nilai-nilai yang ditanamkan kepada generasi muda.
Sosialisasi program kerja juga menjadi ruang bagi para dewan pelatih untuk berdiskusi, berbagi pengalaman, serta memperkuat koordinasi antara tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Langkah tersebut diharapkan dapat membuat pembinaan berjalan lebih terarah dan berkelanjutan.
FORSGI Provinsi Bengkulu berharap pembinaan sepak bola usia dini dapat melahirkan generasi muda yang memiliki kemampuan olahraga sekaligus karakter yang kuat. Dengan pembinaan yang dilakukan secara konsisten di bawah pembinaan LDII, lapangan sepak bola diharapkan tidak hanya menjadi tempat berlatih dan bertanding, tetapi juga menjadi ruang pembentukan generasi muda yang disiplin, sportif, bertanggung jawab, memiliki semangat nasionalisme, dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya.
Forsgi bengkulu mantab
Semoga lancar barokah kiprahnya