DPW LDII Provinsi Bengkulu menggelar pengajian khusus wanita pada Senin (22/6/2026) di Kompleks Ponpes Al Huda Kebun Tebeng, Kota Bengkulu. Kegiatan tersebut dihadiri ratusan ibu-ibu dan remaja putri dari berbagai wilayah di sekitar Kota Bengkulu.
Pengajian itu merupakan upaya Bidang Biro Pemberdayaan Perempuan DPW LDII Provinsi Bengkulu dalam membina keharmonisan keluarga, khususnya melalui penguatan peran perempuan yang memiliki posisi penting dalam kehidupan rumah tangga dan masyarakat.

Dalam pemaparannya, pemateri kegiatan, Mamaju Utami menekankan pentingnya perempuan menjadi pribadi yang sholihah serta menjaga kesehatan lahir dan batin, terutama dalam menjalankan perannya di tengah keluarga.
“Peran wanita itu ada empat, pertama sebagai orang islam, seorang istri, ibu, sekaligus anak,” ungkapnya.
Menurutnya, untuk menjalani berbagai peran yang kompleks tersebut, perempuan memerlukan kesehatan jasmani dan rohani yang seimbang. Tidak hanya sehat secara fisik, namun juga memiliki mental yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
“Agar tidak mudah terpancing dengan cobaan yang menimpa kehidupan,” jelasnya.
Selain itu, Mamaju Utami juga memberikan pembinaan terkait pola pendidikan anak di tengah tantangan perkembangan zaman saat ini. Ia menegaskan pentingnya keteladanan orangtua dalam kehidupan sehari-hari.
“Karena anak tidak akan pernah salah dalam mencontoh,” tuturnya.
Ia menjelaskan, konsistensi menjadi salah satu kunci utama keberhasilan pendidikan anak dalam keluarga. Menurutnya, kebiasaan baik yang diterapkan secara terus menerus akan membentuk karakter anak di masa depan.
“Ketika anak-anak dibiasakan dengan perilaku yang baik, dan bisa diterapkan sebanyak 24x secara terus menerus, menurut penelitian kebiasaan tersebut akan berubah menjadi karakter,” jelasnya.
Melalui kegiatan tersebut, para peserta diharapkan dapat semakin memahami pentingnya peran perempuan dalam membangun keluarga yang harmonis, religius, dan berkarakter. Para orangtua juga diimbau untuk terus bersabar dalam mendidik anak-anaknya.
Seperti pepatah, “mengukir di atas batu”. Terlihat sulit, namun ketika berhasil, maka hasilnya akan dirasakan seumur hidup.