benner website dpw ldii
WhatsApp Image 2025 08 24 At 15.43.34 8a4ab800

Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia, LDII Tekankan Kemandirian Atasi Persoalan Sampah

Jakarta (5/6). Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada 5 Juni, LDII menegaskan pentingnya penerapan konsep mujhid muzhid dan nilai kemandirian sebagai pondasi dalam menghadapi persoalan sampah dan lingkungan hidup.

Anggota Departemen Litbang, IPTEK, Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup DPP LDII, Siham Afatta, menjelaskan bahwa persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan sistem pengelolaan, tetapi juga dipengaruhi pola konsumsi masyarakat yang menghasilkan timbulan sampah dalam jumlah besar setiap hari.

“Persoalan sampah tidak hanya terletak pada sistem pengelolaan, tetapi juga pada pola konsumsi masyarakat, yang menghasilkan timbulan sampah dalam jumlah besar setiap harinya,” ujar Siham Afatta pada Jumat (5/6/2026).

Menurutnya, karakter mujhid muzhid mengajarkan sikap bersungguh-sungguh sekaligus hidup hemat. Dalam konteks lingkungan, hal tersebut dapat diwujudkan dengan mengurangi penggunaan barang sekali pakai, menghindari pemborosan, memilih produk yang dapat digunakan kembali, serta mengendalikan pola konsumsi masyarakat.

“Dalam konteks lingkungan, hemat berarti mengurangi penggunaan barang sekali pakai. Menghindari pemborosan, memilih produk yang dapat digunakan kembali, dan mengendalikan pola konsumsi,” tuturnya.

Ia menegaskan, semakin sedikit sampah yang dihasilkan dari sumbernya, maka semakin ringan pula beban lingkungan. Karena itu, nilai mujhid muzhid perlu berjalan beriringan dengan nilai kemandirian.

“Lebih lanjut, karakter mujhid muzhid harus berjalan beriringan dengan nilai-nilai kemandirian,” katanya.

Siham menilai, persoalan sampah tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada pemerintah maupun petugas kebersihan. Peran aktif masyarakat harus dimulai dari level rumah tangga.

“Mandiri berarti mampu mengelola sampah dari sumbernya. Mulai dari memilah sampah, mengolah sampah organik menjadi kompos, hingga memanfaatkan kembali barang yang masih memiliki nilai guna,” pungkasnya.

Senada dengan itu, Ketua DPP LDII, Dicky Budiman, yang juga Ahli Epidemiologi dan Lingkungan dari Griffith University Australia, menyampaikan bahwa persoalan sampah saat ini bukan sekadar masalah kebersihan, melainkan telah berkembang menjadi persoalan kesehatan masyarakat, lingkungan, ekonomi, hingga ketahanan bangsa.

“Tetapi telah menjadi masalah kesehatan masyarakat, lingkungan, ekonomi, bahkan ketahanan bangsa,” tuturnya.

Dicky menjelaskan bahwa dalam konsep National Action Plan for Health Security (NAPHS), kesehatan manusia menjadi prioritas utama, sementara persoalan sampah menjadi salah satu faktor yang mengganggu kesehatan masyarakat di Indonesia.

“Dan sampah menjadi faktor yang mengganggu kesehatan manusia di Indonesia,” tegasnya.

Ia mengungkapkan, masyarakat Indonesia menghasilkan lebih dari 50 juta ton sampah setiap tahun. Sebagian besar sampah tersebut berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA), bahkan tidak sedikit yang mencemari sungai, laut, hingga dibakar secara terbuka.

“Dan sebagian besar, berakhir di tempat pemrosesan akhir atau TPA. Bahkan, buruknya, ada yang sampai ke sungai, laut, bahkan dibakar secara terbuka. Semua itu tidak sustainable dan tidak environmental friendly,” kata Dicky.

Menurutnya, persoalan sampah berkontribusi terhadap pencemaran udara, tanah, dan air. Karena itu, pendekatan LDII melalui karakter mujhid muzhid dan mandiri dinilai sangat relevan untuk mengatasi persoalan tersebut.

“Pada momen Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini, kami memandang pendekatan LDII melalui karakter mujhid muzhid dan mandiri sangat relevan untuk mengatasi persoalan sampah,” imbuh Dicky.

Ia menjelaskan, strategi pengelolaan sampah modern yang saat ini dianjurkan dunia adalah mengurangi sampah dari sumbernya. Menurutnya, masalah sampah berakar pada tiga persoalan utama, yakni pola konsumsi berlebih, budaya sekali pakai, dan kurangnya tanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan sendiri.

“Maka, solusinya tidak cukup hanya dengan membangun TPA baru, atau menambah armada pengangkut sampah. Tetapi, solusi yang paling efektif adalah mengurangi timbulnya sampah sejak dari rumah tangga, sekolah, hingga tempat ibadah,” pungkas Dicky.

Lebih lanjut, Dicky menegaskan bahwa implementasi 29 karakter luhur dapat diterjemahkan melalui gerakan lingkungan yang konkret. Nilai mujhid muzhid, misalnya, dapat diwujudkan dengan mengurangi timbunan sampah, membiasakan konsumsi seperlunya, hingga mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Sementara itu, nilai kemandirian dapat diterapkan melalui pengelolaan sampah dari sumbernya, seperti memilah sampah organik dan anorganik, membuat kompos rumah tangga, mengembangkan bank sampah berbasis komunitas, serta memanfaatkan kembali barang yang masih bernilai guna.

Dicky juga menekankan pentingnya nilai kerukunan dan kekompakan dalam membangun gerakan bersama mengatasi persoalan sampah.

“Bangun kegiatan kolektif untuk mengatasi persoalan sampah. Semua harus bergerak, tidak bisa hanya satu atau dua orang. Karena masalah sampah tidak bisa diselesaikan sendiri-sendiri,” katanya.

Ia mencontohkan berbagai kegiatan yang dapat dilakukan secara bersama-sama, seperti kerja bakti rutin, program kampung bebas sampah, sedekah sampah plastik, hingga pembentukan bank sampah.

“Membuat program kampung bebas sampah, sedekah sampah plastik, hingga membuat bank sampah. Modal sosial yang kuat ini, akan menjadi faktor keberhasilan menjalankan berbagai program lingkungan,” katanya.

Selain itu, nilai amanah dan jujur juga perlu diwujudkan dalam budaya tanggung jawab lingkungan, seperti tidak membuang sampah sembarangan, tidak membakar sampah secara terbuka, serta menjaga fasilitas umum dan ruang hijau.

“Masyarakat dan warga LDII, harus memiliki integritas untuk menjaga lingkungan. Misalnya dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak membakar sampah secara terbuka dan menjaga fasilitas umum serta ruang hijau,” pungkas Dicky.

Dari perspektif kesehatan lingkungan, pengelolaan sampah yang baik dinilai dapat menurunkan berbagai risiko penyakit berbasis lingkungan, seperti leptospirosis, diare, demam berdarah, hingga infeksi saluran pernapasan.

“Dapat menurunkan risiko penyakit berbasis lingkungan, seperti leptospirosis, diare, demam berdarah, hingga infeksi saluran pernafasan,” katanya.

Menutup keterangannya, Dicky menegaskan bahwa lingkungan yang bersih bukanlah warisan, melainkan titipan bagi generasi mendatang.

“Karena itu, mengelola sampah adalah bagian dari tanggung jawab moral, sosial, dan spiritual kita bersama,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *