Bandung — Pada rangkaian Musyawarah Wilayah (Muswil) IX LDII Jawa Barat, Jumat (14/11/2025), Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto menegaskan posisi LDII sebagai ormas Islam yang berasas Pancasila sekaligus berlandaskan ajaran Islam. Dalam media gathering yang dihadiri puluhan wartawan, ia menyampaikan bahwa sejak awal berdirinya, LDII telah mengambil jalan yang selaras dengan nilai-nilai kebangsaan dan tradisi ormas Islam Indonesia.
“Itulah jati diri kami. Dalam akta notaris pendirian Lembaga Karyawan Dakwah Islam (LEMKARI) pada 1972. Atas arahan Menteri Dalam Negeri Rudini, beliau mengusulkan nama kami diganti dengan Lembaga Dakwah Islam Indonesia atau LDII, agar tidak sama dengan Lembaga Karate-Do Indonesia, yang juga disingkat Lemkari,” urai KH Chriswanto.
Ia menjelaskan bahwa Islam dan Pancasila bagi LDII merupakan dua hal yang saling menguatkan. Sebagai organisasi yang lahir pasca-Orde Baru, LDII tumbuh dengan peta jalan dakwah yang telah dijalankan ormas Islam pendahulunya. “Sebagai ormas dakwah, kami tumbuh dalam tradisi keislaman Indonesia, sejajar dengan organisasi besar lainnya seperti NU dan Muhammadiyah, dan Persis. Sejak 1972 kami sudah mengusung Pancasila sebagai dasar organisasi, karena kelahiran LDII terjadi setelah Indonesia merdeka,” ungkapnya.
Ketua DPW LDII Provinsi Bengkulu, Dr. H. Meri Sasdi, M.Pd., turut memberikan dukungan penuh terhadap penegasan jati diri LDII yang disampaikan Ketum DPP LDII. Menurutnya, komitmen LDII terhadap Pancasila dan tradisi besar keislaman Indonesia merupakan fondasi penting dalam menjaga harmoni dan kontribusi ormas terhadap pembangunan bangsa. Ia menilai, penjelasan KH Chriswanto ini sekaligus memperkuat arah gerak LDII di daerah agar semakin adaptif dan bermanfaat bagi masyarakat.
Meri Sasdi juga menambahkan bahwa LDII Bengkulu siap menerjemahkan arahan nasional tersebut ke dalam program yang relevan dengan kebutuhan daerah. Ia menegaskan bahwa LDII Bengkulu akan terus mengembangkan dakwah yang menyejukkan, pendidikan yang berkelanjutan, serta pemberdayaan masyarakat yang selaras dengan nilai Pancasila. “Apa yang disampaikan Ketua Umum menjadi energi positif bagi kami untuk terus meningkatkan peran LDII di Bengkulu,” ujarnya dalam pernyataan terpisah.
KH Chriswanto juga menyoroti metode pengajian LDII yang memiliki kedekatan dengan tradisi NU melalui sistem sorogan. “Bedanya, kalau di NU biasanya dilakukan di pondok pesantren, kalau kami melakukannya di seluruh majelis taklim yang dinaungi pimpinan anak cabang LDII. Cara mengajinya sama, semuanya memegang kitab,” jelasnya.
Dari sisi manajemen pendidikan, LDII disebut memiliki model yang serupa dengan Muhammadiyah, yakni seluruh sekolah, pesantren, dan satuan pendidikan berada di bawah yayasan dan organisasi. Hal ini memastikan kualitas dan keberlangsungan pendidikan secara nasional. “Dalam manajemen pendidikan, kami mirip Muhammadiyah. Kalau di NU biasanya pondok pesantren milik kiai, sedangkan Muhammadiyah mengelola sekolah dan pesantren melalui yayasan. Di LDII pun demikian, seluruh satuan pendidikan, baik sekolah maupun pondok pesantren, adalah milik yayasan dan organisasi,” terangnya.
Terkait mahzab, LDII mengedepankan pendekatan fleksibel dengan merujuk pada empat imam mahzab tanpa mengikatkan diri pada satu aliran tertentu. “Dari imam empat mahzab tersebut, selalu kami pilih yang paling mendekati dengan hadits Rasulullah SAW. Sehingga kami punya acuan yang kuat, bagaimana sunah atau ibadah yang Rasulullah lakukan,” papar KH Chriswanto.
Ia menambahkan bahwa LDII kini hadir di hampir seluruh Indonesia dan terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar agama. Program di setiap daerah disesuaikan dengan kebutuhan setempat, termasuk di Jawa Barat yang dinamis. “Bagi kami sebagai ormas dan individu, memiliki budi pekerti luhur atau akhlakul karimah belum cukup. Untuk itu, kami juga harus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Sebagaimana sabda Rasulullah: Khoirunnas anfauhum linnas,” imbuhnya.
KH Chriswanto menutup dengan mengajak masyarakat untuk belajar dan mengaji di masjid-masjid LDII di berbagai wilayah Indonesia. “Kami hadir di mana-mana. Programnya bisa disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan daerah masing-masing,” tutupnya.
