benner website dpw ldii
WhatsApp Image 2025 05 25 At 07.59.19 84e904f8

LDII Adakan Pelatihan TPPK: Membangun Sekolah dan Pesantren yang Aman dan Ramah bagi Anak

Kediri, 25 Mei 2025 — Dalam rangka menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih aman, nyaman, dan membangun karakter, DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) menyelenggarakan Pelatihan Tim Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan (TPPK) di Pondok Pesantren Wali Barokah, Kediri, pada Sabtu (24/5). Kegiatan ini dihadiri oleh ratusan peserta dari berbagai latar belakang pendidikan.

Pelatihan menghadirkan psikolog Dian Alia Putri sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, Dian menyoroti pentingnya kejujuran dalam mengenali dan menangani kekerasan di lingkungan sekolah dan pesantren, yang sering kali terjadi dalam bentuk-bentuk yang tidak tampak secara kasat mata.

“Sekolah dan pesantren sepatutnya menjadi ruang tumbuh yang aman dan sehat secara mental bagi anak-anak kita. Mari kita bersama-sama menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan mereka,” ungkap Dian dengan penuh kepedulian.

Ragam Bentuk Kekerasan yang Perlu Diwaspadai

Dian menjelaskan bahwa kekerasan dalam pendidikan dapat muncul dalam berbagai bentuk, baik secara fisik, psikis, verbal, hingga yang berbasis kebijakan dan sistem. Ia merinci enam bentuk utama kekerasan yang kerap ditemui:

  • Kekerasan fisik

  • Kekerasan psikis

  • Perundungan atau bullying

  • Kekerasan seksual

  • Diskriminasi dan intoleransi

  • Kekerasan berbasis sistem atau kebijakan

“Kita perlu lebih peka terhadap bentuk-bentuk kekerasan yang selama ini sering dianggap remeh, seperti ejekan terus-menerus atau perlakuan yang tidak adil,” ujarnya.

Membangun Kesadaran di Lingkungan Pesantren

Dalam konteks pesantren, Dian mengingatkan pentingnya pemahaman terhadap kekerasan seksual yang mungkin tersembunyi di balik interaksi sehari-hari. Ia menekankan bahwa candaan atau tindakan fisik yang tidak pada tempatnya, sekalipun diniatkan tanpa maksud buruk, tetap dapat menimbulkan luka psikologis yang dalam.

Ia juga mengangkat isu kekerasan digital, yang kian marak terjadi di era teknologi, dan dampaknya bisa terbawa ke dunia nyata meskipun penggunaan gawai di sekolah dibatasi.

Budaya Pendidikan yang Lebih Humanis

Dian mengajak para pendidik untuk merefleksikan pendekatan yang selama ini digunakan dalam mendidik. Ia mengingatkan bahwa beberapa metode lama, seperti hukuman fisik atau verbal, meski bertujuan mendisiplinkan, justru bisa mewariskan luka.

“Ketegasan tidak selalu harus disertai kekerasan. Mari kita bangun budaya pendidikan yang mengedepankan kasih sayang dan penghargaan terhadap anak-anak,” katanya.

Ia mengutip hasil survei yang menunjukkan bahwa sebagian guru memiliki kecenderungan sikap keras, yang bisa mempengaruhi pola pengasuhan dan pembelajaran di kelas.

Santri Putra Juga Rentan Kekerasan: Pentingnya Edukasi dan Pengawasan

Salah satu temuan menarik datang dari hasil riset UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam survei terhadap lebih dari 1.700 santri dan guru di 34 provinsi, ditemukan bahwa santri putra justru lebih rentan terhadap kekerasan seksual dibanding santri putri. Dian menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena kurangnya edukasi kesehatan reproduksi dan pengawasan berbasis gender di lingkungan asrama.

WhatsApp Image 2025 05 25 At 07.58.59 B923aa1a 1024x649

Namun demikian, ia juga menyampaikan bahwa secara umum, santri putra menunjukkan ketahanan mental yang baik, khususnya karena keterlibatan dalam aktivitas fisik seperti olahraga. Sementara itu, santri putri disarankan lebih diberi ruang untuk berekspresi melalui seni dan kegiatan emosional sebagai bentuk menjaga keseimbangan mental.

Langkah Bersama Menuju Lingkungan Pendidikan yang Ramah Anak

Pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun satuan pendidikan yang sehat, aman, nyaman, dan menyenangkan (SANM). Dian mendorong peserta untuk tidak hanya memahami teori, tetapi juga turun langsung dalam penanganan kasus kekerasan dengan pendekatan yang empatik dan menyeluruh.

“Mari kita hadir sebagai pendengar yang baik bagi korban, memahami latar belakang pelaku, dan menerapkan keadilan restoratif dalam menyelesaikan konflik,” ucapnya lembut.

Dian juga mengajak peserta menerapkan prinsip tabayun dalam menangani kasus—yakni melakukan klarifikasi secara adil, empatik, dan bebas prasangka.

Mewujudkan Sekolah yang Mendidik dengan Cinta

Menutup sesi pelatihan, Dian menyampaikan pesan yang menyentuh: bahwa sekolah masa depan bukanlah tempat tanpa konflik, melainkan tempat yang mampu mengelola konflik secara bijak dan manusiawi.

“Jika kita ingin anak-anak tumbuh dengan jiwa yang sehat dan bahagia, maka langkah pertama adalah menciptakan ruang kelas yang bebas dari segala bentuk kekerasan, sekecil apapun itu,” pungkasnya.(LINES)

3 thoughts on “LDII Adakan Pelatihan TPPK: Membangun Sekolah dan Pesantren yang Aman dan Ramah bagi Anak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *