benner website dpw ldii
WhatsApp Image 2025 08 24 At 09.29.41 6fe1da29

Ketum DPP LDII: Fondasi Kebangsaan Harus Kokoh di Era Digital

Jakarta (24/8) – Ketua Umum DPP LDII, KH Chriswanto Santoso, menegaskan bahwa penguatan nilai kebangsaan menjadi prioritas utama di tengah derasnya arus digital yang memengaruhi pola pikir dan perilaku masyarakat. Hal ini ia sampaikan saat membuka Sekolah Virtual Kebangsaan (SVK) II di Grand Ballroom Minhajurrosyidin, Jakarta, pada Sabtu (23/8).

Acara yang digelar secara hybrid tersebut diikuti belasan ribu warga LDII dari berbagai daerah di Indonesia. Dalam sambutannya, KH Chriswanto menyoroti dampak besar dunia digital terhadap kehidupan berbangsa. Ia mengingatkan bahwa algoritma media sosial dapat memperkuat polarisasi.

“Di dunia digital, algoritma sangat berpengaruh. Apa yang kita pikirkan, itulah yang akan muncul kembali di layar kita. Input dari digital begitu banyak, tapi tidak ada filter. Inilah yang disebut proxy war, sebuah perang tanpa senjata,” ujarnya.

Menurutnya, Indonesia kini menghadapi perang digital yang kompleks. Informasi tak tersaring, ujaran kebencian, hingga provokasi di ruang maya bisa menjadi ancaman persatuan bangsa.

“Keberagaman yang kita miliki seperti suku, pulau, bahasa, agama adalah kekuatan, tetapi sekaligus kerentanan. Jika kita amati, di Arab yang satu bahasa saja bisa terpecah jadi 24 negara. Indonesia jauh lebih beragam, sehingga kita lebih rentan bila tidak ada fondasi kebangsaan yang kuat,” jelasnya.

Chriswanto menegaskan bahwa Pancasila merupakan anugerah besar yang harus dijaga bersama. Sejak awal berdiri, Indonesia dibangun atas perbedaan yang disatukan dalam Pancasila.
“Kita harus bersyukur karena lahirlah Pancasila di negara kita. Pancasila menjadi titik temu dari berbagai kepentingan, identitas, dan latar belakang. Tegaknya kebangsaan merupakan tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.

Ia menambahkan, kebangkitan nasional di era digital tidak lagi sekadar diukur dari kekuatan fisik atau ekonomi, melainkan juga ketahanan bangsa dalam menghadapi derasnya arus informasi global.
“Kebangkitan nasional 2.0 hanya bisa terwujud bila kita benar-benar memahami dan mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa itu, Indonesia bisa terseret arus perpecahan,” ujarnya.

SVK II hadir sebagai ruang pembelajaran kebangsaan yang relevan dengan tantangan era digital. Program ini menyajikan materi untuk memperkuat pemahaman Pancasila di kalangan generasi muda, sekaligus membekali mereka agar lebih kritis terhadap informasi digital.

“Melalui SVK II, kami berharap generasi muda LDII dan masyarakat luas bisa lebih memahami arti penting Pancasila, serta menjadikannya benteng persatuan di tengah derasnya arus globalisasi,” pungkas KH Chriswanto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *