benner website dpw ldii
whatsapp image 2025 12 30 at 22.27.36

KH Chriswanto Santoso: Muhasabah Tahun Baru Kunci Bangun Bangsa Bermartabat

Surabaya (31/12) — Memasuki tahun 2026, perjalanan bangsa Indonesia telah mencapai usia 81 tahun. Dalam perjalanannya sebagai sebuah negara-bangsa, Indonesia menghadapi berbagai dinamika, baik di tingkat nasional maupun global. Kondisi tersebut menuntut adanya evaluasi dan perbaikan berkelanjutan agar penyelenggaraan kehidupan bernegara tetap sejalan dengan cita-cita pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso menyampaikan pentingnya melakukan muhasabah atau introspeksi, khususnya pada momentum pergantian tahun, sebagai bagian dari upaya bersama antara pemerintah dan masyarakat untuk memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ia menilai, sebagai negara demokrasi dengan mayoritas penduduk muslim, Indonesia juga dihadapkan pada berbagai konsekuensi demokrasi, termasuk munculnya kelompok-kelompok kepentingan. Dalam praktik demokrasi, terdapat potensi dominasi sekelompok kecil pihak terhadap masyarakat dan sumber daya melalui oligopoli maupun dukungan modal besar terhadap kekuasaan di tingkat lokal.

“Sebagai negara demokrasi kita tidak menafikkan hal-hal itu, sebagai contoh Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Rusia maju karena tumbuh suburnya konglomerasi. Namun, pemerintah yang kuat dan mengedepankan keadilan sosial dan kesejahteraan umum mampu membawa negara menjadi superior, bukan mengalah kepada investor,” tegasnya.

Lebih lanjut, KH Chriswanto menyoroti persoalan lingkungan hidup yang menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah. Ia mengungkapkan, kerusakan lingkungan yang terjadi akibat investasi yang tidak terkendali masih menjadi ancaman serius. Berdasarkan data Kementerian Kehutanan RI tahun 2024, deforestasi di Indonesia mencapai 175.000 hektar, dengan luas hutan tersisa sekitar 95,5 juta hektar. Ancaman tersebut diperparah oleh ekspansi perkebunan sawit, aktivitas pertambangan, serta kebakaran hutan.

Untuk itu, ia mengajak seluruh elemen bangsa melakukan muhasabah atas capaian pembangunan nasional, agar tujuan mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur serta mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 dapat tercapai. Ia juga mengingatkan runtuhnya berbagai peradaban besar dunia sebagai pelajaran berharga bagi Indonesia.

“Peradaban besar itu memiliki teknologi canggih melampaui zamannya, yang tidak dipunyai bangsa-bangsa lain yang sezaman. Tapi persoalan kemerosotan moral menjadi pemicu kehancuran peradaban, dan saat ini hanya menyisakan bangunan-bangunan sebagai pengingat dan pelajaran,” tegasnya.

Menurut KH Chriswanto, berbagai persoalan kebangsaan tersebut akan menjadi bahan pembahasan dalam Musyawarah Nasional (MUNAS) X LDII yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan 2026. “Kami akan menggodok berbagai masukan untuk pemerintah, terkait persoalan-persoalan kekinian, yang solusinya akan kami tuangkan dalam program kerja dan rekomendasi,” tutur KH Chriswanto.

Selain itu, LDII juga menaruh perhatian besar pada pembinaan generasi muda sebagai upaya membangun peradaban yang bermoral. Pembinaan tersebut diharapkan menjadi kontribusi nyata dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

Salah satu langkah konkret yang terus dilakukan adalah penyelenggaraan Pengajian Akhir Tahun, yang telah dilaksanakan secara rutin sejak pertengahan 1990-an atas inisiasi Dewan Penasihat DPP LDII dan para ulama. “LDII setiap akhir tahun mengadakan pengajian di majelis-majelis taklim, musholla, masjid dan pesantren. Para generasi muda diajak beraktifitas bersama dengan mengaji, berdiskusi, nasehat, menampilkan drama, pencak silat dan sejenisnya. Bahkan untuk tahun ini kami mengimbau agar para generus untuk juga menanam pohon di sekitar lokasi pengajian masing-masing,” ujar Chriswanto.

Melalui Pengajian Akhir Tahun, LDII berharap generasi muda dapat terhindar dari kegiatan negatif seperti maksiat, hura-hura, serta gaya hidup konsumtif dan hedonis. Kegiatan ini juga bertujuan menjaga pergaulan remaja serta memperkuat karakter generasi yang berbudi pekerti luhur, memiliki pemahaman agama yang baik, dan mandiri.

“Kami mengajak para ulama, pamong, guru, muballigh-muballighot dan orangtua untuk mendorong generasi muda melaksanakan kegiatan positif dan menghadiri Pengajian Akhir Tahun. Sesungguhnya ini merupakan langkah memperkuat nilai-nilai moral generasi penerus bangsa, agar mereka dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT,” tegasnya KH Chriswanto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *