benner website dpw ldii
WhatsApp Image 2025 11 10 At 12.25.42 836203ec

DPP LDII: Hari Pahlawan Jadi Momentum Perjuangan Melawan Kemiskinan, Krisis Moral, dan Disintegrasi Bangsa

Jakarta (10/11) – Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945 yang menjadi tonggak lahirnya Hari Pahlawan mengingatkan bangsa Indonesia akan keberanian luar biasa dalam mempertahankan kemerdekaan dari upaya penjajahan kembali oleh Inggris dan Belanda. Delapan dekade kemudian, semangat heroik arek-arek Surabaya itu tetap menjadi inspirasi dalam membangun bangsa menuju kemandirian dan kemajuan.

Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso menegaskan pentingnya generasi muda meneladani nilai perjuangan para pahlawan.

“Mempelajari sejarah berarti mengenali jati diri bangsa. Dari sana tumbuh rasa percaya diri untuk menghadapi tantangan zaman, membangun kemandirian, memperkuat persatuan, dan meneguhkan moral kebangsaan,” ujarnya.

Menurut KH Chriswanto, Pertempuran Surabaya melambangkan keberanian dan pengorbanan tanpa pamrih.

“Para pejuang berjuang dengan peralatan sederhana, namun dengan keyakinan teguh untuk menjaga martabat bangsa. Semangat itu kini harus diwujudkan dalam bentuk kerja nyata dan kontribusi positif bagi kemajuan Indonesia,” tegasnya.

Ia menambahkan, perjuangan di masa kini bukan lagi di medan tempur, melainkan di bidang sosial, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan moral.

“Sekarang kita berjuang melawan kemiskinan, kebodohan, dan disintegrasi bangsa. Pahlawan masa kini adalah mereka yang berdedikasi di bidangnya masing-masing, menjaga persatuan, dan memperkuat nilai moral dalam kehidupan bermasyarakat,” jelasnya.

KH Chriswanto juga menekankan pentingnya menanamkan nilai-nilai kepahlawanan dalam pendidikan dan pembinaan karakter anak bangsa.

“Peringatan Hari Pahlawan bukan sekadar seremoni, tetapi momentum menanamkan semangat nasionalisme, disiplin, tanggung jawab sosial, dan keikhlasan berjuang,” katanya.

Ia menegaskan, LDII berkomitmen menumbuhkan jiwa kepahlawanan pada generasi muda melalui kegiatan dakwah, pendidikan karakter, dan pengabdian masyarakat.

“Kami ingin melahirkan pahlawan masa kini yang berilmu, berakhlak, dan berdedikasi,” tambahnya.

Menutup pernyataannya, KH Chriswanto mengingatkan bahwa semangat kepahlawanan harus terus menjadi bagian dari pembangunan bangsa.

“Kita tidak boleh melupakan sejarah. Tanpa pengorbanan para pahlawan, tidak ada kemerdekaan yang kita nikmati hari ini. Kini tugas kita adalah menjaga dan mengisinya dengan kerja keras, kejujuran, toleransi, dan persatuan,” pungkasnya.

Semangat 10 November dan Tantangan Nilai Zaman Modern

Sementara itu, sejarawan sekaligus Ketua DPP LDII Prof. Singgih Tri Sulistiyono menegaskan bahwa Hari Pahlawan bukan hanya peringatan atas Pertempuran Surabaya, tetapi juga momentum lahirnya kesadaran kolektif bangsa tentang arti kemerdekaan yang diperjuangkan dengan pengorbanan dan solidaritas.

Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro (UNDIP) itu menilai bahwa perjuangan masa kini tidak lagi bersifat fisik, melainkan perjuangan moral dan intelektual.

“Jika dulu perjuangan dilakukan dengan senjata, kini perjuangan adalah melawan kemalasan berpikir, korupsi nilai, dan pudarnya idealisme,” ungkapnya.

Prof. Singgih menekankan bahwa semangat 10 November perlu diwujudkan melalui integritas, tanggung jawab sosial, dan kerja nyata untuk bangsa.

“Generasi kini menghadapi bentuk penjajahan baru, yaitu penjajahan nilai seperti individualisme dan pragmatisme. Namun, esensinya tetap sama: keberanian, pengabdian, dan cinta tanah air. Bedanya, perjuangan sekarang dilakukan dengan pengetahuan, kreativitas, dan integritas moral,” jelasnya.

Ia menilai nilai terpenting dari Pertempuran Surabaya adalah keberanian moral dan solidaritas kebangsaan—nilai yang tetap relevan menghadapi tantangan sosial dan moral saat ini.

“Keberanian moral hari ini adalah keberanian menegakkan kebenaran, kejujuran, dan keadilan. Semangat gotong royong juga harus dihidupkan kembali untuk melawan korupsi, perpecahan, dan ketidakadilan sosial,” tegasnya.

Prof. Singgih menutup pernyataannya dengan seruan agar semangat 10 November terus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Pahlawan masa kini bukan mereka yang berperang dengan senjata, tetapi yang berjuang melawan kemalasan, korupsi, intoleransi, dan apatisme sosial. Setiap tindakan, sekecil apa pun, harus menjadi bagian dari perjuangan membangun Indonesia yang berkeadaban dan berintegritas,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *